Artikel

Jawa Barat Berkomitmen Dalam Menurunkan Kasus Infeksi Hepatitis C

Congue iure curabitur incididunt consequat
Penyakit hepatitis C menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang, temasuk di Indonesia. Hepatitis C merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis C (hepatitis C virus, HCV) yang tergolong dalam virus Ribonucleid Acid(RNA). Masuknya virus ini akan menimbulkan antibodi terhadap HCV yang dapat diukur melalui pemeriksaan serologi yang menandakan riwayat infeksi.1) Hepatitis C merupakan penyakit yang seringkali tidak menimbulkan gejala pada infeksi akut. Sehingga banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi hepatitis C. Seorang yang terinfeksi Hepatitis C bisa berkembang menjadi kronis atau bahkan menimbulkan kematian akibat kegagalan fungsi hati atau kanker.1) Virus hepatitis C (HCV) merupakan salah satu penyebab utama penyakit hepatitis kronis, sirosis hepatis, dan karsinoma sel hepar. Penularan penyakit hepatitis C dapat terjadi melalui beberapa cara, di antaranya adalah melalui kontak darah antar individu, pencangkokan organ dari donor yang terinfeksi, kelahiran dari ibu yang terinfeksi, dan penggunaan peralatan jarum secara bersama-sama. Transmisi dari ibu ke anak bisa saja terjadi tatapi lebih sering terkait dengan adanya ko-infeksi bersama HIV. Kasus hepatitis C sebesar 60% pada Intravenous Drug Use (IDU). 15 % kasus melalui transmisi seksual dan 6 % melalui transmisi vertikal (dari ibu ke anak). Transmisi secara perkutan misalnya tindik telinga dan bagian tubuh lain, sirkumsisi, tattoo dapat terjadi jika alat-alat yang dipergunakan tidak disterilkan secara adekuat.
Berdasarkan hasil studi estimasi GBD, Injuries and Risk Factors 2010, jumlah pengidap hepatitis C di dunia mencapai lebih dari 185 juta orang dengan peningkatan prevalensi dari 2,3% menjadi 2,8% pada periode 1990-2005.2) Sedangkan pada tahun 2015 secara global sudah menginfeksi sebanyak 71 juta orang3). Secara nasional berdasarkan data SIHEPI (Sistem Informasi Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan) hingga Bulan Maret 2021 tercatat sejumlah 7424 orang dengan VL HCV terdeteksi, 6194 orang yang sudah dimulai terapi dengan Direct Acting Antiviral (DAA), 3990 orang telah mendapat terapi yang lengkap, 1920 orang dilakukan tes SVR 12 dengan angka kesembuhan 95,57%5). Sedangkan di Jawa Barat secara kumulatif s/d bulan April 2021 terdapat positif ratenya 5,78% dari yang dilakukan skrining sebanyak 44.402 orang dan yang terdeteksi viraload 47,41%. Layanan Hepatitis C di jawa Barat sudah dimulai pada tahun 2017, di Kota Bandung, dengan capaian hingga Bulan Maret 2021 tercatat sejumlah 675 orang dengan VL HCV terdeteksi, 432 orang yang sudah dimulai terapi dengan Direct Acting Antiviral (DAA), 317 orang telah mendapat terapi yang lengkap, 198 orang dilakukan tes SVR 12 dengan angka kesembuhan mencapai 99,49%.
Tingginya angka kesembuhan Hepatitis C dengan pengobatan DAA memberikan harapan besar untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Hepatitis C bahkan mencapai Eliminasi Hepatitis C yang ditargetkan oleh pemerintah pada tahun 2040. Dengan demikian diharapkan ditingkatkannya deteksi dini melalui skrining pada populasi risiko tinggi Hepatitis C Virus (HCV). Prioritas skrining pada anti HCV adalah penguna napza suntik (penasun) / eks penasun, orang dengan HIV, pasien Haemodialisa, warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Dalam upaya akselerasi Eliminasi Hepatitis pada saat ini terdapat dukungan Clinton Health Access Initiative Indonesia (CHAI) pada 2 kota di Jawa Barat yaitu Kota Bandung dan Kota Bogor. Bentuk dukungan CHAI dalam upaya pengendalian Hepatitis C Virus yaitu berupa pelayanan, penemuan kasus pada kelompok risiko tinggi, penemuan kasus, penggunaan data serta akses test dan obat. Dalam kegiatannya CHAI menyelenggarakan pertemuan koordinasi lintas sektor dengan melibatkan LSM, KPA, Kementerian Hukum dan HAM, warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan populasi kunci sehingga diharapkan adanya kesadaran untuk dapat melakukan skrining dan Sosialisasi petugas puskesmas untuk bisa melakukan penapisan dan juga diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak lain guna mempercepat penemuan kasus dan meningkatkan pengobatan Hepatitis C. Disamping itu juga dilaksanakan petugas puskesmas untuk bisa melakukan penapisan dan juga diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak lain guna mempercepat penemuan kasus dan meningkatkan pengobatan Hepatitis C yang bertujuan untuk melihat perkembangan implementasi program penatalaksanaan Hepatitis C di tiap rumah sakit dan membantu pemecahan tantangan yang dihadapi oleh rumah sakit.


DAFTAR PUSTAKA
1) Westbrook RH, Dusheiko G. Natural history of hepatitis C. J Hepatol. 2014;61:S58-68.
2) Hanafiah KM, Groeger J, Flaxman AD, Wiersma ST. Global epidemiology of hepatitis C virus infection: new estimates of age-specific antibody to HCV seroprevalence. Hepatology. 2013;57:1333-42.
3) WHO. Guidelines for the screening care and treatment of persons with chronic hepatitis C infection. Updated version, April 2016.
4) Kementerian Kesehatan, Materi presentasi Kebijakan Deteksi Dini dan Managemen Hepatitis C dengan DAA

Penulis : Elfi Cut Mutia,SKM,MKM

Artikel Lain

Close
Close