Artikel

Waspada Leptospirosis

Congue iure curabitur incididunt consequat

Sumber gambar : sehatq.com

Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang dapat menginfeksi pada manusia maupun hewan. Manusia paling sering terinfeksi melalui kontak pekerjaan, atau kontak dengan urin hewan pengangkut, baik langsung atau melalui air / tanah yang terkontaminasi. Risiko manusia terinfeksi tergantung pada paparan terhadap faktor risiko.

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat menimbulkan wabah jika tidak dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin.  Manusia dapat terinfeksi Leptospirosis karena kontak secara lansung atau tidak langsung dengan urin hewan yang terinfeksi Leptospira. Beberapa manusia memiliki risiko tinggi terpapar Leptospirosis karena pekerjaannya, lingkungan dimana mereka tinggal atau gaya hidup. Risiko penularan dapat terjadi pada kelompok pekerjaan utama yang berisiko yaitu petani atau pekerja perkebunan, petugas pet shop, peternak, petugas pembersih, saluran air, pekerja pemotongan hewan, pengolah daging, dan militer.

Kelompok lain yang memiliki risiko tinggi terinfeksi Leptospirosis yaitu adanya bencana alam seperti banjir dan peningkatan jumlah manusia yang melakukan olahraga rekreasi air. Tidak semua orang yang terinfeksi leptospirosis akan langsung menunjukkan gejala. Bisa saja gejala baru muncul setelah penderita melewati masa inkubasi sekitar 10 hari. Gejala klinis dari penyakit leptospirosis adalah:

  1. Demam tinggi hingga menggigil
  2. Nyeri kepala
  3. Nyeri otot, khususnya daerah betis
  4. Sakit tenggorokan disertai batuk kering
  5. Mata merah dan kulit menguning
  6. Mual hingga muntah-munta dan disertai diare

Paska munculnya gejala, penderita leptospirosis biasanya akan pulih dalam waktu 1 minggu setelah system imunitas dapat mengalahkan infeksi. Tetapi pada sebagian penderita bisa mengalami tahap ke dua dengan ditandai dada terasa nyeri,serta kaki dan tangan yang bengkak. Selama terserang tahap ke dua, bakteri leptospira dapat menyerang organ lain seperti organ pada paru-paru, ginjal, otak dan jantung.

Apabila memperhatikan grafik di atas dapat terlihat bahwa selama 7 tahun terakhir terjadi kenaikan kasus Leptospirosis di Jawa Barat, hal ini terjadi kenaikan kasus pada tahun 2019  sebanyak 34 penderita dengan CFR 0% dan pada tahun 2020 terjadi kenaikan kasus Leptospirosis menjadi  sebanyak 55 penderita dengan CFR sebesar 16,4%, tahun 2021 terjadi penurunan kasus menjadi 14 penderita dengan CFR 14,3%. Dari tahun 2015 – 2021, Kabupaten yang sering menemukan adanya kasus Leptospirosis adalah Kabupaten Bandung yang memang terdapat beberapa daerah yang merupakan daerah langganan banjir sehingga merupakan faktor risiko terjadinya leptospirosis. Pencegahan penularan leptospirosis :

  1. Berperilaku hidup bersih dan sehat dengan menjaga kebersihan diri terutama setelah beraktivitas di lokasi yang berisiko terpapar leptospirosis.
  2. Memberikan sosialisasi pentingnya menggunakan alat pelindung diri bagi pekerja yang bekerja di lingkungan yang berisiko leptospirosis.
  3. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, supaya tidak menjadi sarang tikus termasuk tempat penyimpanan air, penanganan sampah supaya tidak menjadi sarang tikus.
  4. Sosialisasi ke masyarakatkan tentang bahaya leptospirosis terutama pada kelompok masyarakat yang memiliki resiko tinggi terpapar leptospirosis

Penulis : Elfi Cut Mutia, SKM.,MKM

Artikel Lain

Close
Close