Tanggal : 26 Oct 2017

PERAN AKTIF PROVINSI JAWA BARAT DALAM PROGRAM ELIMINASI FILARIASIS

Penulis : developer
Dibaca : 1097 Kali

Print Friendly and PDF

Filariasis merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini dapat merusak system limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mammae dan scrotum yang manimbulkan kecacatan seumur hidup serta stigma sosial bagi penderita dan keluarganya.

Upaya pemberantasan Filariasis telah dilaksanakan sejak tahun 1975 terutama di daerah endemis tinggi Filariasis. Pada tahun 1997, World Helath Assembly menetapkan resolutsi “ Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem”. Yang kemudian pada tahun 2000 diperkuat dengan keputusan WHO dengan mendeklarasikan ‘The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as aPublic Health Problem by the Year 2020”.

Untuk mencapai Eliminasi Filariasis tersebut perlu adanya akselerasi Eliminasi Filariasis sehingga mulai tahun 2015 - 2020 Kementerian Kesehatan RI menetapkan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) yang dicanangkan setiap tahun sampai pada Bulan Oktober dimulai pada tahun 2015 - 2020.

Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) adalah bulan dimana setiap penduduk yang tinggal di Kabupaten/Kota endemis filariasis di seluruh wilayah Indonesia serentak minum obat pencegahan filariasis. Bulan Eliminasi Kaki Gajah diharapkan dilaksanakan setiap tahun sampai eliminasi filariasis di Indonesia tercapai. Bulan Eliminasi Kaki Gajah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI pada setiap Bulan Oktober dimulai pada tahun 2015 – 2020. Setiap Kabupaten/Kota endemis filariasis wajib melaksanakan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis sekali setahun selama minimal 5 (lima) tahun berturut-turut sebagai upaya menghentikan penularan cacing filaria di daerah endemis.

Tujuan adanya Bulan Eliminasi Kaki Gajah terselenggaranya kegiatan POPM Filariasis terhadap seluruh penduduk sasaran di Kabupaten/Kota endemis Filariasis secara serentak sehingga diharapkan dapat meningkat cakupan pengobatan yang tinggi dan merata agar dapat memutuskan mata rantai penularan Filariasis secara efektif.

Cakupan POPM Filariasis di kabupaten/kota endemis filariasis adalah sebesar lebih dari 85% jumlah penduduk sasaran pengobatan dan 65% dari jumlah penduduk total. Sementara, cakupan POPM Filariasis untuk setiap desa/kelurahan atau wilayah setingkat desa adalah minimal sebesar 80% total penduduk wilayah tersebut.

Bulan Eliminasi Kaki Gajah merupakan akselerasi untuk mencapai eliminasi filariasis di Indonesia pada tahun 2020.

Sampai dengan Semester I tahun 2017 kasus kronis filariasis sebanyak  888 kasus yang tersebar di 27 Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Di Jawa Barat terdapat 11 kabupaten/Kota yang endemis Filariasis dengan ditemukan Mf Rate > 1%, dimana sampai tahun 2017 terdapat 2 Kota yang sudah menerima Sertifikasi Eliminasi Filariasis yaitu Kota Bogor dan kota Depok sedangkan 4  Kabupaten/Kota sedang proses Monitoring dan Evaluasi yaitu Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kab. Bandung dan Kabupaten Subang, 5 Kabupaten Kota sedang melaksanakan POPM Filariasis yaitu POPM Filariasis putaran ke 5 yaitu Kabupaten Karawang dan Kabupaten Tasikmalaya, POPM Filariasis putaran ke 3 yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Purwakarta. Kegiatan POPM Filariasis di 5 Kabupaten/Kota akan dilaksanakan pada Bulan Oktober 2017 ini. Sebelum pelaksanaan POPM Filariasis terdapat kegiatan-kegiatan yang mendukung pelaksanaan POPM Filariasis yaitu Pertemuan Advokasi POPM Filariasis, Pertemuan Koordinasi POPM Filariasis, Pertemuan Koordinasi RS, workshop peningkatan pengetahuan TPE tentang POPM Filariasis, pendataan sasaran & penapisan/screening penyakit yang tidak diperbolehkan untuk minum obat pencegahan Filariasis di masyarakat. Pada Bulan Oktober 2017 sebelum dilaksanakan POPM Filariasis di Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Tasikmalaya dilaksanakan Pencanangan POPM Filariasis yang dilanjutkan Minum Obat bersama antara Bupati, Anggota DPRD, Muspida, pejabat Instansi terkait, perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI,  Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan masyarakat untuk meyakinkan keamanan obat yang diberikan kepada masyarakat.




Post Terkait

Comments

Please retype the characters from the image:
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 


No Comments Results.
Poling

Menurut anda Tampilan Web site Diskes Provinsi Jawa Barat

Sangat Baik
Baik
Sedang