Tanggal : 05 Jun 2014 10:05 Wib

Longsor di Karyamukti Cianjur

Diposting Oleh : admin
Dibaca : 2508 kali

Print Friendly and PDF

Akses Jalan Masih Tertutup, Material Longsor Belum Dibersihkan

CIANJUR, (PRLM).- Longsor di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur yang menyebabkan akses jalan antarkampung di desa tersebut tertutup hingga Minggu (26/2) belum ada pembersihan material longsor. Padahal warga Kampung Gunung Padang, Kampung Ciherang, Kampung Cipanggulan, Kampung Ciukir, dan Kampun Cimalati khawatir hujan deras akan menyebabkan longsor susulan.

"Sampai saat ini masih belum mendapat bantuaan untuk membenahi materil tanah longsor di jalan atau di sekitar rumah yang terkena longsor. Warga masih yang rumahnya terkena longsor masih bertahan di rumah kerabatnya. Belum ada satupun petugas dari dinas terkait membantu kami," ucap tokoh pemuda setempat, Endang Nasihin (32).

Endang mengatakan, hujan deras yang terjadi dua hari terakhir justru membuat jalan yang terkena longsor semakin becek dan susah dilewati. "Kemarin masih bisa dilewati sepeda motor. Kalau sekarang beberapa pemuda menjaga jalan yang terkena longsor agar tidak dilewati kendaraan bermotor karena berbahaya," tuturnya.

Hingga kini, kata Endang, warga yang rumahnya terkena longsor juga belum mendapat bantuan. Beberapa warga saling membantu memberikan makanan sekedarnya. "Namun kendala kami warga antar kampung ini juga susah akses jalannya. Terpaksa harus berjalan kaki. padahal jarak kampung yang satu dengan yang lain bisa lebih dari 10 km," ucapnya.

Longsor yang terjadi Sabtu (25/2) juga menyebabkan 10 rumah rusak parah. Meski tidak ada korban jiwa namun, warga semakin khawatir karena akses evakuasi mereka terhalang oleh material longsor yang menutupi jalan di beberapa titik.

Warga lainnya, Abidin (37) mengatakan dengan tertutupnya akses jalan di beberapa titik jalan penghubung antar kampung membuat beberapa kampung seperti Kampung Cipanggulan terisolasi. "Akses jalan yang tertutup membuat warga resah karena mereka sehari-hari melewati jalur tersebut untuk menjual hasil pertanian atau ke puskesmas. Kalau akses jalan tertutup begini ya mereka lama-lama terisolasi," ucapnya.

Hingga kini, kata Abidin, belum banyak yang bisa dilakukan warga karena tertutupnya akses mereka. Warga dengan bergotong royong hanya bisa menyingkirkan material longsor agar setidaknya dapat dilewati sepeda motor.

"Namun itupun tidak efektif karena hanya menggunalakan cangkul seadanya. Kami mengharapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur segera turun tangan dan membawa alat berat untuk segera membuka jalan yang tertutup material longsor," tuturnya.

Lebih lanjut Abidin menuturkan dari survey yang dilakukan kelompok pemuda setempat, sedikitnya ada sepuluh titik di empat kampung yang rawan longsor. "Kami ingin ada bantuan dari Pemkab Cianjur untuk segera merelokasi rumah-rumah warga yang berada pada titik-titik longsor tersebut. Namun, hingga kini bantuan dari Pemkab pun belum datang," katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Cecep Alamsyah saat dihubungi untuk dikonfirmasi, nomor telepon genggamnya tidak aktif. Dikirimi pesan singkat pun hingga berita ini diturunkan tidak dibalas.

Namun, sebelumnya Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur Tulus Budiyono mengatakan berdasarkan pemetaan wilayah rawan bencana pergerakan tanah, dari 32 kecamatan di Cianjur, 25 kecamatan di antaranya masuk dalam kategori rawan bencana pergerakan tanah. Mayoritas, wilayah rawan bencana pergerakan tanah berada di Cianjur bagian selatan.

"Semua wilayah atau sebanyak 16 kecamatan di wilayah Cianjur selatan rawan bencana pergerakan tanah. Sisanya, sebanyak 9 kecamatan lagi berada di wilayah utara," katanya.

intensitas tinggi curah hujan, kata Tulus, memicu pergerakan tanah semakin labil sehingga semakin mudah terjadi longsor.(A-186/A-108)***